Wednesday, 3 October 2018

Outbound Divisi Sumber Daya Manusia - Bank Sumut, The Hill, Sibolangit


Siapa sih yang belum pernah melakukan Outbound dalam hidupnya? walaupun cuma sekali aja, atau mungkin sudah pernah melihat orang melakukan outbound atau sekedar mengetahuinya. Biasanya, acara yang diperuntukkan untuk sebuah kelompok ini sering dilakukan oleh sebuah keluarga, atau teman sekantor / satu perusahaan, atau mungkin mahasiswa dan bahkan anak sekolahan dan kegiatan ini dilakukan di ruang terbuka. Banyak sekali manfaat yang bisa didapat salah satunya adalah kepemimpinan, manajaemen dan kerjasama yang diperuntukkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.



Kata lain dari Outbound adalah “Mancakrida”, kegiatan ini biasanya dilakukan di alam terbuka yang langsung diterapkan pada elemen dasar sifat sehari-hari sehingga pendekatannya unik dan sederhana namun juga efektif. Kita harus saling percaya dengan teman, mau memperhatikan, memiliki sifat proaktif serta komunikatif. Simulasi kehidupan yang kompleks dapat diolah menjadi sederhana dengan kemauan belajar dari pengalaman yang dibalut dengan penuh kegembiraan dalam sebuah permainan.

Postingan kali ini merupakan Outbound yang saya lakukan bersama teman-teman sekantor yang ada di Divisi Sumber Daya Manusia - Bank Sumut. Acara yang dilaksanakan di The Hill, Sibolangit ini diikuti personil yang berjumlah sekitar 20-an orang, dimulai dengan bernyanyi bersama yang dipandu oleh instruktur. Masih terngiang di telinga saya lagu yang judulnya “Aba Kabayan”, cukup unik lagunya dan menarik untuk diikuti. Selain lagu Aba Kabayan juga ada lagu-lagu lainnya yang dinyanyikan bersama dengan penuh kegembiraan.



Ada beberapa macam permainan yang kami lakukan pada saat Outbound, ada permainan yang membutuhkan konsentrasi, kemudian permainan kelompok yang melibatkan seluruh peserta dalam sebuah lingkaran dimana kita itu harus saling memangku satu sama lain dengan posisi berjongkok, tidak boleh ada satu orang pun yang jatuh, peserta tidak boleh berpegangan dan tangan diangkat keatas. Ini merupakan kerjasama tim yang saling terkait, karena bila ada satu saja yang gagal maka seluruh tim juga akan gagal.


Kemudian peserta dibagi menjadi 2 kelompok dan kita berkompetisi antara kelompok, ini bertujuan untuk menciptakan suasana kompetisi namun sportif tentunya. Masing-masing kelompok memiliki yel-yel masing-masing sebagai penyemangat. Dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia bekerja, kita juga dituntut untuk lebih kompetitif untuk mencapai tujuan dari perusahaan, dan kita juga memerlukan adanya support baik itu datang dari keluarga maupun rekan kita.



Ada beberapa permainan yang dimainkan pada perlombaan ini, permainan pertama ; mengumpulkan benda apa saja yang ada ditubuhnya seperti baju, topi, ikat pinggang, sepatu, tali sepatu, kaos kaki bahkan badan sendiri untuk dijadikan satu/disambung menjadi satu, hasil dari sambungan itu nantinya akan dibawa oleh satu orang menuju garis finish, benda-benda yang disambungkan tadi tidak boleh ada yang terlepas pada saat mencapai garis finish, sambungan siapa yang lebih dulu masih finish dialah pemenangnya. Selain itu juga masih ada beberapa permainan lainnya yang tak kalah seru seperti permainan estafet memindahkan bola dengan cara meniupnya pada wadah gelas yang diisi air terlebih dahulu, pemenang ditentukan bola siapa yang sampai ke gelas terakhir.


Intinya sih sebenarnya adalah kerjasama tim, strategi apa yang harus dibuat tim untuk mencapai suatu tujuan dari permainan-permainan tersebut. Karena ini memang permainan tim, tidak disarankan untuk kita menjadi seorang individualis. Dalam realita kehidupan baik itu kehidupan sehari-hari, maupun dalam pekerjaan. Seorang itu harus mampu menempatkan dirinya dalam situasi tertentu, kalau memang dituntut untuk bekerjasama dengan tim yah kita harus melakukannya untuk satu tujuan.


Salam Xplorasi…!!!

Monday, 10 September 2018

Perjalanan Singkat ke Kuala Lumpur, Malaysia


And again… untuk yang ke sekian kalinya saya pergi ke negeri jiran, tepatnya di kota Kuala Lumpur, Malaysia. Kesempatan kali ini saya bersama dengan teman-teman sekantor, namun saya tidak memperlihatkan foto-foto kebersamaan dengan teman-teman karena memang bukan konsumsi publik, hehehe… Perjalanan singkat, karena hanya menginap 1 (satu) malam saja dan jalan-jalannya itu yah cuma full day seharian.



Berangkat pagi dari Bandara Kuala Namu Medan dan sampai di Bandara Kuala Lumpur sudah disambut dengan kendaraan yang akan membawa kami seharian keliling Kuala Lumpur. Menggunakan 2 (dua) bas persiaran kami langsung menuju ke kota modern yang merupakan kawasan administrasi pemerintahan Malaysia yaitu Putra Jaya. Dengan berbagai arsitektur yang menarik, sejenak kami menikmati suasana di Masjid besar yang bernama Central Mosque. Berkeliling sebentar disekitar kawasan tersebut, kami pun langsung menuju ke Batu Caves.



Bukit batu kapur yang memiliki beberapa gua, didalam gua tersebut terdapat Pura sebagai tempat suci Agama Hindu. Batu Caves berada di utara Kuala Lumpur, Malaysia yang berjarak sekitar 13 km dari kota Kuala Lumpur. Dulunya tempat ini dipromosikan sebagai tempat pemujaan oleh seorang pedagang India. Begitu sampai di kawasan Batu Caves, kita akan disuguhi dengan sebuah patung Dewa Hindu yang menjulang dengan ketinggian sekitar 45 meter terbuat dari batangan baja yang dibawa dari Thailand. Dibelakang patung tersebut terdapat sebuah bukit dengan pintu gua yang cukup besar, juga akan melihat anak tangga yang berjumlah sekitar 275 anak tangga dengan ketinggian hampir 100 meter.



Cuaca yang cukup panas dan rasa lapar sudah menghinggapi, siang hari kami merencakan untuk makan Nasi Kandar Pelita yang lokasinya dekat dengan KLCC. Memang tidak lengkap rasanya apabila kita mengunjungi Malaysia tanpa menikmati Nasi Kandar yang begitu khas dengan karinya ala masakan India, dengan berbagai macam menu yang ditawarkan. Ditempat ini juga kita sekalian istirahat, menunaikan ibadah sholat dan makan siang tentunya. Setelah mengisi perut masing-masing kami pun melanjutkan perjalanan ke Istana Malaysia, berbelanja di Central Market dan bermain serta berfoto di Lapangan Merdeka, Malaysia. Seharian ini berakhir di hotel yang sudah kami pesan di sekitaran kawasan Bukit Bintang, istirahat sejenak, bersih-bersih dan makan malam.



Lanjut... malam harinya, kami pergi menuju ke KLCC untuk melihat menara kembar Petronas pada malam hari. Dengan menggunakan shuttle bus gratis dari dan menuju ke kawasan KLCC, setelah itu acara bebas. Masing-masing dengan kegiatannya sendiri, berbelanja dan sebagai macam, saya memilih untuk menikmati suasana di seputaran Bukit Bintang dan menikmati night street food dan jajanan di sekitar jalan Alor.


Salam Xplorasi…!!!

Tuesday, 21 August 2018

Peninggalan Kolonial Belanda Pada Wisata Kota Tua Jakarta


Mungkin sudah mainstream pada saat kita mendengar wisata Kota Tua Jakarta, karena memang tempat ini merupakan kawasan yang sangat sering dikunjungi oleh wisatawan di Jakarta. Berada ditengah hiruk pikuk kota metropolitan, kawasan wisata ini sangat kental sekali dengan nuansa Jakarta tempo doeleo. Tempat ini memang selalu dipadati oleh penunjung karena dengan mengunjungi tempat ini maka kita bisa mendapatkan suasana yang sarat dengan sejarah.



Dibangun pada masa kolonial penjajahan Belanda, tempat ini dijadikan sebagai pusat perdagangan di Asia. Jakarta yang pada saat itu dikenal dengan nama Batavia menjadi pusat perdagangan baik itu dari dan keluar negeri lewat jalur pelayaran. Gubernur Jakarta pada saat itu Ali Sadikin tepatnya di tahun 1972, mengeluarkan dekrit resmi yang menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan yang bertujuan untuk melindungi arsitektur dan bangunan yang tersisa.



Ada beberapa destinasi yang bisa dituju di kawasan Kota Tua Jakarta, salah satunya adalah Museum Fatahillah. Yah, museum ini sangat populer dikalangan wisatawan yang mengunjungi kota tua. Karena mereka kebanyakan meluangkan waktu untuk mendatangi tempat dengan tiket masuk Rp.5 rb untuk orang dewasa. Dulunya gedung ini digunakan sebagai balai kota, juga pernah difungsikan sebagai pengadilan, kantor catatan sipil, tempat dewan kotapraja.



Museum ini menyimpan sangat banyak koleksi barang bersejarah, baik itu yang asli maupun replica. Gedung ini resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta pada tahun 1968, dan diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakrta pada tahun 1974. Beberapa koleksi yang dapat dilihat seperti replica peninggalan Tarumanegara dan Pajajaran, Furniture antic, keramik, prasasti bersejarah, dan benda bersejarah lainnya. Terdapat juga penjara bawah tanah yang menjadi saksi bisu penderitaan tawanan pada masa perang.



Disekitaran halaman museum Fatahillah para pengunjung akan menemui banyak sepeda onthel yang sudah dihias/dicat sedemikian rupa untuk terlihat lebih menarik disewakan beserta topi khas Belanda pada zaman dulu, sepeda-sepeda tersebut dibandrol dengan harga Rp.20 rb/30 menit. Selain sepeda onthel tersebut dihalaman yang sangat luas itu juga bisa kita lihat pemandangan banyaknya burung merpati dan dipersilahkan para pengunjung untuk memberi makan burung-burung tersebut.


Salam Xplorasi…!!!