Thursday, 24 December 2015

Potret Realita Kehidupan Pinggiran Rel Kereta Api


Bagi saya, menyusuri pinggiran rel kereta api disalah satu kawasan di Kota Medan memberikan cerita dan pengalaman baru, banyak hikmah yang dapat diambil dari realita kehidupan disana. Realita yang dapat dijadikan inspirasi dan motivasi serta pelajaran berharga untuk kehidupan kita. Ada sebuah perjuangan untuk mempertahankan hidup di tengah hiruk pikuknya kota besar ini, walaupun sebenarnya mereka tidak berada ditempat yang semestinya.




Hidup dilingkungan ini sangat dekat dengan maut, jarak yang sangat dekat dengan laluan kereta api, halaman rumah merupakan rel yang selalu dilewati oleh kereta api. Namun mereka masih bisa tersenyum bahagia bercanda dengan sesama, suasana keakraban diantara mereka terlihat dari aktivitas yang mereka jalani setiap harinya.


Mereka sebenarnya paham kalau mereka tinggal ditempat yang salah dan bukan haknya, tapi mereka juga manusia, yang memiliki sifat ingin dihargai sehingga apabila lahan mereka akan dimanfaatkan oleh pemerintah, mereka rela pergi dari sana. Alasan yang sangat klasik karena mereka merasa tidak mampu untuk membayar kontrakan dan hidup di rumah yang lebih layak.




Kehidupan berkeluarga bahkan sampai memiliki anak cucu mereka jalani disana, sembari mereka mencari rezeki di tempat lain untuk penghidupan keluarganya. Untuk bertahan hidup mereka kebanyakan menjadi pemulung barang bekas, bekerja bangunan, dan ada sebagian yang bekerja mengemis, mungkin itu beberapa pekerjaan yang dapat mereka lakukan karena tidak memiliki modal besar dan keahlian khusus.