Tuesday, 26 January 2016

Kota Barus, Jejak Peradaban Nusantara


Satu-satunya kota kecil di Indonesia yang namanya disebut sejak awal abad Masehi oleh literatur dalam berbagai bahasa seperti Yunani, Arab, China, Melayu, dll. Diklaim sebagai kota pelabuhan terbesar di Nusantara pada zaman dulu, pedagang dari berbagai Negara terutama Timur Tengah datang kesini untuk memburu pohon kapur barus. Sejak itu kota ini dipercaya sebagai pintu masuk agama Islam di Indonesia.


Sebuah Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Kota ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Komoditas perdagangan dari daerah ini sangat berharga dan diperdagangkan sampai ke Arab dan Persia. Eksplorasi terhadap kapur barus yang berlebihan mengakibatkan tidak ada regenerasi dari pohon yang berusia lama ini.


Meski tak setenar Medan atau Danau Toba, kota ini begitu istimewa karena sarat dengan sejarah dan jejak peradaban di masa lampau. Makam-makan tua bercorak islam seperti makan Mahligai merupakan salah satu saksi bisu yang bisa dijumpai di tempat ini.




Dan Makam Papan Tinggi adalah tempat yang paling sering dikunjungi oleh para wisatawan. Untuk dapat sampai kesana harus menaiki tangga sekitar 700-an anak tangga karena tempat ini berada diketinggian 153 mdpl. Makan yang begitu indah dengan pemandangan yang cukup amazing untuk melihat Samudera Hindia dari atas sana. Kita akan menemukan makan dengan ukuran panjang sekitar 9 meter dan batu nisan ketinggian 1,5 meter.


Untuk akomodasi sendiri, kita tidak akan menemukan banyak hotel/penginapan di daerah ini. Namun untuk kuliner banyak pilihan kue-kue khas Barus. Senja hari di kota ini kita akan dimanjakan dengan Matahari terbenam di pesisir pantai Barus.