Tuesday, 28 February 2017

Dermaga Kecil Menuju Kampung Nelayan Belawan


Walaupun sudah sering ke daerah Belawan untuk melakukan hunting foto, namun saya tidak pernah merasa bosan untuk kembali kesana dan mengambil beberapa foto yang menggambarkan tentang tempat ini. Hunting kali ini terhenti di sekitar dermaga menuju kampung nelayan. Ditempat inilah parkir beberapa kapal tongkang yang mengangkut penumpang dari daratan Belawan menuju Kampung Nelayan.



Suasana sore di kawasan ini sangat menarik sekali untuk untuk di dokumentasikan. Segala aktivitas kapal menuju dermaga dapat kita berlatar belakang laut belawan dapat kita ambil dari dermaga kecil ini. Ongkos yang harus dibayarkan untuk menyebrang dari dermaga ke Kampung Nelayan adalah sebesar Rp.3000 dengan memakan waktu sekitar 10 menit. Profesi mayoritas penduduk di kampung ini adalah nelayan, sehingga nama kampung ini disebut Kampung Nelayan. Mungkin juga di daerah-daerah perairan lain memiliki kampung nelayan, namun masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri.



Kisah kisah lain tentang Belawan pernah saya posting sebelumnya di blog diantaranya Kampung Nelayan, Hunting Foto di Perairan Belawan dan Menyusuri Kampung Kurnia Sampai ke Pelabuhan Belawan. Tentunya banyak hal-hal menarik yang bisa di temui pada saat melakukan perjalanan hunting di Belawan. Jadi gak ada salahnya men, kalau mau hunting atau travel ke daerah Belawan karena merupakan alternatif untuk mendapatkan foto-foto yang bagus.


Saturday, 25 February 2017

Mencari Spot Foto Malam Hari di Kota Medan


Menikmati suasana malam di Kota Medan bisa dijadikan alternatif untuk untuk melakukan hunting foto dengan teknik slow speed. Beberapa tempat yang dapat dijadikan untuk spot fotografi sebagai berikut :

1. Grand Aston City Hall
Menjadi salah satu bangunan hotel yang masih melestarikan warisan tempo dulu (di masa penjajahan Belanda). Memiliki arsitektur yang megah namun nuansa yang ditonjolkan adalah kemegahan bangunan tempo dulu (jadul) sehingga menjadikannya sebagai daya tarik bagi para wisatawan. Terletak di titik nol /jantung kota Medan, wisawatawan bisa memanfaatkan berbagai fasilitas wisata dan hiburan serta sangat dekat dengan pusat perbelanjaan. Hotel ini menghadap ke Merdeka Walk (Lapangan Merdeka) yang merupakan tempat populer di kawasan kota. Menyandang predikat sebagai hotel bintang 5, Grand Aston City Hall yang terletak di Jalan Balai Kota, Medan, memiliki 250 kamar fasilitas yang ditawarakan juga sangat lengkap untuk kebutuhan para wisatawan. Pada bagian depan hotel ini terdapat gedung eks Balai Kota yang sampai sekarang masih terlihat berdiri megah. Dengan pilar-pilar bergaya Yunani pada depan bangunan sehingga menjadikannya sebagai heritage sehingga kota Medan tempo dulu masih bisa dirasakan suasananya karena desain arsitektur merupakan gaya eropa abag 20-an.


2. Gedung Analisa Medan
Ini dia penampakan gedung kantor Analisa yang merupakan sebuah surat kabar harian di kota Medan. Salah satu surat kabar terbesar di Medan ini sangat terkenal dengan kartun Pak Tuntung yang selalu muncul di setiap harinya di halaman surat kabar (kecuali hari minggu). Kantor terletak di seputaran Kesawan, pada foto bisa di lihat suasana malam hari dari depan gendung kantor tersebut. Dengan moto “Membangkitkan Partisipasi Rakyat Dalam Pembangunan” Analisa memiliki gedung modern namun masih ada sedikit bergaya klasik.


3. Masjid Raya Al Mashun
Salah satu ikon sejarah suku Melayu di Kota Medan ini pernah saya dibahas di postingan saya sebelumnya Melihat Ikon Sejarah Suku Melayu di Masjid Raya AlMashun. Pada postingan kali ini saya melihat Masjid ini ketika suasana malam hari.

Tuesday, 14 February 2017

Menelisik Eksotisme dan Keindahan Danau Lau Kawar di Kaki Gunung Sinabung



Memiliki luas hanya sekitar 200 hektar, Danau Lau Kawar yang terletak di Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo berada di ketinggian 1.425 mdpl ini merupakan salah satu tujuan wisata di tanah Karo yang menyimpan keindahan yang sangat eksotis. Berada di kaki Gunung Sinabung sebagai pintu masuk pendakian ke gunung tersebut dengan udara yang cukup sejuk menjadikan kawasan ini sangat cocok menjadi tujuan travel dengan nuansa alam.





Danau ini masuk ke dalam Kawasan Ekosistem Leuser yang menjadi Base Camp sebelum memulai pendakian, sehingga dilindungi oleh pemerintah. Jarak dari Kota Brastagi sekitar 25 Km. Hijaunya pepohonan yang berada di sekeliling danau memberi kesan asri tersendiri bagi para pengunjung. Dibalik keindahannya banyak kisah mistis apabila kita mendengar mengenai kisah Danau Lau Kawar ini.




Pasca letusan Gunung Sinabung, memang tempat ini tidaklah seramai dulu pengunjungnya. Namun begitu, keindahannya  tetap memanjakan mata setiap orang yang datang. Suasana yang begitu sejuk terasa untuk memandang bukit hijau dan Gunung Sinabung. Apabila mau berkemah di kawasan ini memiliki fasilitas yang mencukupi. Banyak ditemui rakit-rakit atau kapal kecil yang bisa disewa untuk mengitari danau tersebut.



Ditengah fasilitas penginapan yang masih banyak belum memadai di kawasan tersebut, karena kebanyakan yang datang kesini tujuannya untuk berkemah. Namun ada sebuah cottage/bungalow yang cukup bagus berada ditepian danau Lau Kawar tersebut, sering disebut orang dengan Villa Lau Kawar. Kalau dari kawasan perkemahan Lau Kawar jalannya lurus terus, bisa dilalui kendaraan roda empat. Fasilitasnya sangat bagus memiliki beberapa bungalow dengan latar belakang Gunung Sinabung, ada juga penginapan dengan dinding kaca terang yang langsung mengarah ke Danau, kolam renang dengan air pegunungan yang sangat sejuk, serta beberapa fasilitas lainnya.

Tuesday, 7 February 2017

Melewati Pergantian Tahun di Puncak Gunung Sinabung


Memutuskan untuk kembali ke alam dengan mendaki Gunung Sinabung dimalam pergantian tahun merupakan ide yang sedikit tak biasa, karena hirup pikuknya kembang api dan perayaan tahun baru tidak dapat dirasakan. Yah itulah yang terjadi beberapa tahun lalu sesaat sebelum Gunung Sinabung mulai Erupsi, saya mengajak salah satu teman kantor untuk menghabiskan malam pergantian tahun di Gunung Sinabung. Mendapat sambutan, kami pun mengajak teman-teman yang lain, akhirnya tim kami terkumpul sebanyak 9 orang, 5 laki-laki dan 4 perempuan yang siap berangkat menuju Puncak Gunung Sinabung.

Salah satu gunung berapi yang masih aktif di Kabupaten Karo, Sumatera Utara dengan tingkat erupsi yang cukup dahsyat. Memiliki ketinggian hingga 2.451 Mdpl ini tercatat tidak pernah meletus sejak tahun 1600, namun kembali aktif dan erupsi kembali pada tahun 2010, 2013 dan 2016 hingga saat ini aktifitas erupsi Gunung Sinabung masih tetap berlangsung dengan frekuensi dan tingkatan yang bervariasi. Dibalik kedahsyatan letusannya, Gunung ini menjadi kawasan favorit bagi para pendaki gunung karena keindahan dan pesona alamnya yang menakjubkan.


Pengalaman saya sudah beberapa gunung di Jawa yang pernah saya capai puncaknya, kalau di Sumatera Utara saya pernah mencapai Puncak Sorik Marapi di Kabupaten Madina, namun untuk Sinabung inilah pengalaman pertama saya. Setiap Gunung pasti memiliki karakter yang berbeda-beda. Nah kebetulan dari 9 orang di tim belum ada yang cukup berpengalaman naik ke Gunung Sinabung, so.. modal nekat, cari info sana-sini, searching, bawa peralatan seadanya, beberapa ada yang disewa atau pinjam, seperti doom, matras, bahkan tas kapsul.

Ada fakta terkait Gunung Sinabung yang cukup menarik diantaranya :
  • Letusan bukan dari puncaknya melainkan dari bagian samping.
  • Termasuk dalam daftar gunung mati setelah letusan terakhir di tahun 1600, namun faktanya kembali aktif dan meletus dari tahun 2010.
  • Gunung dengan erupsi terlama yang saat ini memegang rekor.

Ada dua jalur pendakian yang bisa dipilih untuk mencapai puncak, yaitu melalui Danau Lau Kawar dan melalui Desa Mardinding dengan medan pendakian yang cukup terjal dan curam sehingga jarang dipilih oleh para pendaki. Selain kedua jalur pendakian tersebut, sebelumnya ada jalur pendakian melalui Desa Sigarang-garang namun saat ini sudah tidak digunakan lagi.


Mengawali perjalanan dari Medan menuju Brastagi kemudian melanjutkannya menuju Desa Lau Kawar di Kecamatan Naman Teran. Desa ini merupakan pos pertama sebelum melakukan pendakian. Dibutuhkan waktu sekitar 3,5 jam perjalanan dari Medan menuju ke pos pendakian Danau Lau Kawar. Setidaknya ada 4 pos atau Shelter yang harus dilewati para pendaki untuk bisa sampai ke Puncak Gunung, pos tersebut digunakan untuk tempat beristirahat sebelum melanjutkan pendakian.


Pos pertama adalah kawasan Danau Lau Kawar, ditempat ini para pendaki bisa menikmati keindahan Lau Kawar yang menawarkan keindahan alami dengan pepohonan hijau nan asri dan mempesona, disini juga kita bisa mendirikan tenda/doom, serta terdapat juga pondok-pondok yang menjual makanan untuk mengisi perut sebelum kita melakukan pendakian. Untuk mendaki, kita harus melapor terlebih dahulu dengan melakukan registrasi pada saat akan melakukan pendakian kepada petugas yang berjaga.


Kami memulai pendakian pada tengah malam sekitar pukul 00.00 WIB dengan harapan sampai di puncak pada saat matahari terbit (sunrise). Sepanjang perjalanan para pendaki disuguhi dengan hamparan ladang penduduk yang menghijau  luas membentang, pendaki juga akan melewati hutan tropis. Karena kondisi medan perjalanan yang cukup menantang sehingga membutuhkan konsentrasi para pendaki maka waktu yang ditempuh untuk mencapai puncak Gunung Sinabung sekitar 5-6 jam perjalanan. Pada saat melewati kawasan batu cadas, kita menemukan jalan yang yang cukup terjal dan curam mungkin mencapai 45 derajat, sehingga untuk mendaki kawasan ini diperlukan konsentrasi penuh dan ekstra hati-hati. Kanan dan kiri jalur pendakian ini terdapat jurang, salah perkiraan nyawa menjadi taruhan.
Perjalanan menuju ke pos dua serta diantara pos tiga ke pos empat akan ditemukan sumber mata air yang bisa dijadikan bekal untuk menuju ke puncak. Walaupun tidak ada jaminan sumber mata air tersebut mengalir karena adakalanya juga mengering di musim kemarau. Sumber air diantara pos tiga dan empat sering dikenal dengan nama air pandan.

Setelah pos keempat dan kita meneruskan perjalanan menuju puncak dengan menghadapi tantangan yang lebih sulit, medan pendakian berupa jalan setapak bebatuan dengan kanan kiri jurang yang curam. Ditempuh berjam-jam melewati medan perjalanan cukup sulit dan sedikit membosankan karena sudah tidak sabar untuk sampai di puncak, maka tibalah kami sekitar pukul 05.00 WIB di puncak Gunung Sinabung. Seketika itu rasa lelah, capek, penat pun hilang karena dibayar lunas dengan pemandangan yang begitu menakjubkan dari puncak gunung. Dengan suhu udara di puncak gunung rata-rata 10-15 derajat celsius, para pendaki akan merasakan sejuknya udara di pegunungan yang alami.

Selain disuguhi keindahan alam yang mempesona, dikawasan tersebut terdapat sebuah kawah dengan ukuran yang cukup besar karena merupakan gabungan dari dua kawah sebelumnya. Kawah yang sering dikenal dengan istilah Kawah Batu Sigala yang diyakini menyimpan sejuta misteri yang tak terungkap hingga saat ini. Diantara puncak terdapat teras dengan area yang cukup luas sehingga memberikan kesan tersendiri bagi kami para pendaki. Sedikit kurang beruntung karena kami tidak bisa menikmati Sunset yang tertutup dengan awan yang sangat tebal. Namun kami bisa leluasa melihat Danau Lau Kawar, barisan perbukitan yang sangat menakjubkan dari kejauhan. Sungguh mahadahsyatnya ciptaan Allah dapat kita rasakan dari puncak Gunung Sinabung ini.

COPYRIGHT © 2015-2019 | XPLORASI