Wednesday, 15 March 2017

Saksi Bisu Dahsyatnya Gelombang Tsunami pada Monumen PLTD Apung


Pagi itu tepat di tanggal 26 Desember 2004, ketika saya masih kuliah di Jogja. Ibu menelepon saya dan mengatakan telah terjadi gempa yang begitu kerasnya di Aceh hingga guncangannya terasa sampai di Siantar yang merupakan salah satu kota di Sumatera Utara. 


Kejadian itu mungkin tidak akan pernah terlupakan sampai sekarang, Gelombang Tsunami yang menghantam pesisir utara ananda Aceh. Kedahsyatan gelombang yang tingginya mencapai 9 meter dengan menyeret segala benda yang di laluinya sampai ke jantung kota ananda Aceh sejauh 5 km. 



Sebegitu dahsyatnya peristiwa itu sehingga meninggalkan jejak yang bisa kita ingat saat ini, salah satunya adalah Monumen PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung. Monumen uni mengingatkan kita betapa dahsyatnya kekuatan alam ciptaan Allah.


Coba saja kita bayangkan bagaimana mungkin sebuah kapal dengan panjang 63 meter, luas mencapai 1.900 meter persegi, bobot 2.600 ton bisa bergerak sampai ke tengah kota Banda Aceh. Kapal yang terseret gelombang pasang pada saat Tsunami ini terhempas ke tengah pemukiman warga dan terletak tidak jauh dari museum Tsunami. 11 awak kapal dan beberapa warga yang berada diatas kapal hanya menyisakan satu orang yang selamat.


Sekarang tempat ini dijadikan monumen untuk mengingatkan kembali Fenomena kekuatan alam yang tak dapat kita hindari. Disekeliling monumen dibangun dinding dan relief seperti air bah. Tempat ini sudah dibeli oleh pemerintah dan dilakukan penataan ulang sehingga menjadi wahana wisata edukasi untuk mengenang korban jiwa akibat peristiwa Tsunami.