Tuesday, 30 May 2017

Sejarah dan Simbolisme Prayer Flags di Masyarakat Budha Tibet


Prayer Flags atau Bendera Doa adalah kain berwarna warni yang berisi / ditulis dengan simbol, doa, mantra yang menguntungkan. Sering dijumpai di sepanjang pegunungan Himalaya dan kawasan Tibet. Sangat menarik untuk membahas tentang Prayer Flags di negeri ini, mereka biasanya memberkati daerah sekitar untuk suatu tujuan. 


Selama berabad-abad lamanya Budha Tibet telah menanamkan tradisi bendera ini di luar rumahnya maupun di tempat spritual lainnya. Mereka mempercayai bahwa bendera yang digantungkan itu akan membawa kebahagiaan, kemakmuran dan umur yang panjang bagi orang yang menanam bendera-bendera tersebut serta orang yang berada disekitarnya.


Apabila bendera digantung pada tanggal astrologi yang tidak menguntungkan, mereka percaya itu akan membawa hasil negatif. Waktu terbaik memasang bendera adalah di pagi hari yang cerah dan berangin. Bendera doa lama akan diganti mereka setiap tahunnya tepatnya di tahun baru Tibet.

Menurut tradisi, Prayer Flags memiliki 5 (lima) warna yang disusun dari kiri ke kanan dengan urutan tertentu, biru, putih, merah, hijau, dan kuning. Kelima warna tersebut mewakili elemen-elemen tertentu “Five Pure Lights”. 


Unsur yang berbeda terkait dengan perbedaan warna masing-masing tradisi, tujuan dan sarjana tertentu.
1  Biru, melambangkan langit dan angkasa
2  Putih, melambangkan udara dan angin
3  Merah, melambangkan api
4  Hijau, melambangkan air, dan 
5  Kuning, melambangkan bumi.


Bendera-bendera terbuat dari 100% bahan kain katun dengan kualitas bagus, cat tekstil warna-warni alamiah dan tidak beracun. Memiliki warna warni yang cerah, bendera dapat ditempatkan di dalam bangunan untuk meningkatkan spritual, namun lebih banyak menempatkannya di luar rumah. Mereka mengikatnya di tali horizontal atau tiang tiang kayu vertikal.


Simbol dan mantra pada bendera-bendera doa ini bersifat suci. Sehingga siapa saja harus memperlakukannya dengan baik untuk penghormatan terhadap tradisi Tibet, jangan meletakkannya di tanah atau menggunakan sebagai barang pakaian. Biasanya cetakan lama yang tidak terpakai lagi atau mau diganti, akan dibakar terlebih dahulu sebelum membuangnya.


Salam Xplorasi...!!!


Saturday, 27 May 2017

Menyaksikan Isi dan Aktivitas di Dalam Kuil Waqietalin


Sebuah kompleks kuil yang terletak di desa adat Amdo, Hongyuan, provinsi Sichuan Barat. Merupakan kawasan Tibet yang berada di ketinggian 3.508 meter diatas permukaan laut. Kuil Waqietalin ini memiliki 108 pagoda putih yang tersusun berbaris dengan sangat rapih.



Menurut sejarah Waqietalin ini dijuluki dengan Mutiara dari Sichuan Barat. Selain pemandangan alam yang indah, adat yang sederhana dan kuno, tempat ini memiliki sejarah revolusioner dan religius yang cukup panjang.



Tampak orang-orang yang berada di kuil Waqietalin bekerja dengan sangat tekun, membentuk relief-relief Budha, Stupa yang terbuat dari tanah liat dan akan di pergunakan untuk keperluan kuil. Mereka menyebutnya Tsha Tsha yang merupakan tablet nazar tanah liat dalam Buddhisme Tibet.



Tujuan membuat tsha tsha ini adalah untuk mengumpulkan jasa Budha, yang sudah selesai akan digunakan untuk mengisi di tempat suci kuil tersebut. Tsha Tsha diyakini sebagai objek yang digunakan mengusir penyakit. Perwakilan khas seni Budha di Tibet yang merupakan harta berharga peninggalan nenek moyang Tibet.



Walaupun sering dilakukan perusakan oleh bencana alam atau manusia, tsha tsha masih dapat ditemukan tersebar luas di daratan China. Karya cetakan yang tidak sulit dibuat dan bahannya tanah liat mudah untuk didapat di seluruh wilayah Tibet.



Salam Xplorasi...!!!

Thursday, 25 May 2017

Mengenal Hewan Yak di Habitat Liar Pegunungan Tibet


Perjalanan fotografi yang cukup panjang dan menyenangkan tak habis-habisnya saya melihat sesuatu yang baru dan pengalaman yang bisa menjadi cerita untuk anak cucu saya kelak. Kali ini kami menemukan hewan Yak dipadang rerumputan yang luas, jadi pertanyaan Yak yang begitu banyak ini pemilik mana yah? Karena di sekitar tempat tersebut tidak terlihat ada penggembala.



Yak (latin : Bos grunniens) merupakan hewan sejenis lembu memiliki bulu/rambut yang panjang dan sangat tebal sehingga mudah untuk dikenali, biasa berwarna hitam, sebagian berwarna coklat gelap, kadangkala ada yang berwarna putih. Ciri lainnya adalah sepasang tanduk mengarah ke depan sehingga membuatnya mirip dengan banteng.




Terlahir untuk beradaptasi dan hidup di daerah pegunungan sebagai habitat liarnya, menjadikan bulu yang tebal dan panjang membantu agar suhu tubuh tetap hangat. Pola kehidupan Yak ini berkelompok dan nomaden (berpindah-pindah), tak jarang mereka berjalan sangat jauh untuk mencari sumber makanan. Kondisi tubuh yang dimilikinya juga bisa bertahan walau menembus salju sekalipun.



Sebelum melanjutkan untuk mengeksplorasi Waqietalin Temple, kami mengisi perut dulu di sebuah distrik kecil dekat dengan kuil tersebut. Sesekali kami ikut berbaur dengan penduduk sekitar, untuk sekedar berfoto bersama.


Salam Xplorasi...!!!

Friday, 19 May 2017

Melihat Keunikan Piknik Penduduk di Negeri Tibet


Suatu hal yang tidak biasa kita temukan di Indonesia dalam hal berlibur, berkemah atau piknik, di Tibet kami menemukan keunikan penduduk yang sedang Piknik. Dalam perjalanan antara Chuanzushi menuju ke Waqietalin Temple, pada posting sebelumnya saya sangat mengagumi pemandangan padang rumput luas layaknya seperti wallpaper windows Xp. Masih di padang rerumputan yang letaknya dipinggir jalan lintas kami menemukan keluarga Tibet yang sedang piknik.


Yah, benar saja ternyata pada musim panas antara bulan Juni sampai September, para kerabat dan keluarga di Tibet berkumpul, berlibur untuk merayakan musim panas tersebut, salah satunya adalah dengan piknik di padang rumput hijau. Bahkan kegiatan tersebut bisa dilakukan sampai berbulan lamanya.



Hal ini yang kami lihat di negeri ini, di padang rumput hijau yang sangat luas ada sebuah keluarga dengan mendirikan tenda-tenda piknik tradisional Tibet, duduk di karpet dan bantal khas Tibet. Mereka memiliki banyak makanan seperti daging Yaks, the mentega Tibet bahkan minuman anggur. Mereka menyanyi, menari, melompat, membuat teka-teki, bercerita tentang hari-hari berlalu. Di sebagian tempat kegiatan piknik ini bahkan menjadi festival yang rutin dilakukan.



Suasana yang begitu menyenangkan dengan wajah-wajah ceria yang tampak diantara mereka. Ketika kami datang, mereka menyambut kami dengan penuh suka, begitu ramah dan penuh canda, memberi daging Yaks hasil masakan mereka, berfoto bersama dan kami juga larut dalam kesenangan mereka. Ditengah teriknya matahari namun udara masih terasa cukup sejuk, wajah khas anak-anak Tibet dengan pipi yang memerah menjadi pemandangan tersendiri dalam foto-foto saya.



Ada satu yang menjadi pertanyaan dalam benak saya pada saat itu, selama mereka berlibur menikmati pikniknya, dimana mereka mandi atau mau buang hajat yah? Kalau melihat sekeliling yang ada hanya padang rumput yang luas, tanpa adanya sanitasi. Nah loh…



Salam Xplorasi…!!! 
COPYRIGHT © 2015-2019 | XPLORASI