Tuesday, 20 June 2017

Bermalam di Tenda Nomaden Tibet pada Ketinggian 4.200 Mdpl


Taktsang Lhamo Valley, padang rumput hijau yang sangat luas dengan kontur pegunungan berada di ketinggian sekitar 4.200 meter diatas permukaan laut, tempat ini adalah rumah bagi para nomaden Tibet, Yak dan domba. Pekerjaan sebagai petani dan peternak merupakan pekerjaan mayoritas di penduduk Tibet. Nomaden Tibet tidak memiliki tempat yang tetap, akan tetapi selalu berpindah-pindah di padang rumput luas dengan membawa barang yang mereka miliki.



Sampai di tenda, kami disambut hangat oleh Shihdur Cap dan istrinya Namso, mereka berada di tenda khas Tibet yang terbuat dari anyaman rambut Yak. Mereka adalah keluarga angkat kami selama berada Kami mendirikan lagi sebuah tenda untuk tempat kami tidur malam nanti dan mreka menyediakan selimut-selimut yang sangat tebal. Namso mulai bersiap untuk memasak makanan buat kami.




Tenda para nomaden Tibet merupakan perumahan yang sangat penting bagi para nomaden. Biasanya tenda terbuat wol yang sudah dipintal tangan ke benang dapat membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk membuat tenda utuh berukuran sedang. Tenda mereka bisa terlihat tipis, bahkan sampai kita bisa melihat langit dari celahnya. Bagian atas dibiarkan terbuka seperti lubang yang digunakan untuk keluarnya asap dan masuknya sinar matahari yang hangat ke dalam tenda.



Setiap keluarga nomaden Tibet sudah ditunjuk oleh pemerintah mereka bahwasanya masing-masing memiliki wilayah khusus dimana mereka dapat merumput hewan yang dimiliki. Dalam setahun mereka bisa bergerak 2 - 3 kali, namun kebanyakan sekarang mereka hanya semi nomaden, tinggal di tenda selama 6 - 8 bulan dalam setahun sisanya tinggal di rumah pada umumnya.




Suasana sore yang begitu dahsyat, saya tidak berhenti mengagumi pemandangan alam pegunungan ciptaan Tuhan yang begitu maha indahnya, gugusan gunung dari kejauhan yang tampak berjajar dengan begitu rapih. Kami disuguhkan dengan dengan langit biru yang indah. Ketika matahari terbenam, langit memerah keemasan tak mau kalah menunjukkan keindahannya.



Di dalam tenda, dengan penuh kesenangan kami makan malam bersama-sama, Mie khas Tibet dengan daging Yak yang spesial di masakan oleh Namso. Berkumpul di depan tungku di dalam tenda beramai-ramai rasanya begitu hangat. Namun udara pada malam ini begitu ekstrim, dingin yang sangat menusuk tulang dengan suhu yang mencapai derajat 1 digit. Namun semua harus bisa terlewati untuk menjelang esok pagi yang bakalan lebih menarik, karena kami akan melihat aktivitas keluarga nomaden Tibet.



Salam Xplorasi...!!!