Tuesday, 20 June 2017

Mengabadikan Momen Aktivitas Sehari-hari Kaum Nomaden Tibet


Setelah mengalami dingin yang begitu menusuk tulang tadi malam, suhu cuaca yang mencapai 1 digit derajat celcius. Pagi ini kami disambut sunrise yang begitu ciamik, langit kuning keemasan, sinar matahari yang begitu tegas mulai menyinari kami pada ketinggian. Sangat beruntung hari ini kami akan melihat aktivitas sehari-hari nomaden Tibet. 



Dimulai oleh Namso, yang akan memerah susu yak, pada saat Namso bersiap untuk memerah susu yaks, ini adalah momen yang nyata dari aktivitas nomaden Tibet yang tak bisa saya lewatkan. Saya juga bersiap dengan kamera untuk mendokumentasikan semua aktivitas yang mereka lakukan. Secara bergantian Namso memerah susu para yak tanpa terlihat lelah dengan begitu mahirnya, dan sudah terbiasa dengan semua yang dilakukannya.


Sementara suami Shihdur Chap suami Namso masih melepaskan semua Yak untuk merumput dan mengumpulkan kotoran Yak untuk dikeringkan agar menjadi bahan bakar untuk memasak. Beginilah kehidupan kebanyakan orang Tibet yang tinggal di desa pegunungan atau menjadi nomaden mereka melakukan pemeliharaan domba, yak. Yak sendiri banyak manfaat yang dapat diambil seperti : daging, susu, rambut dan juga kotoran untuk dibakar di dalam kompor.



Susu hasil perahan Yak yang dilakukan oleh Namso tadi dikumpulkan dalam suatu wadah yang besar untuk selanjutnya dilakukan proses pengolahan, seperti pembuatan susu asam (yoghurt) dan mentega. Pembuatan mentega dilakukan oleh Shihdur Chap di dalam tenda, susu Yak direbus terlebih dahulu. Hal tersebut sangat dianjurkan untuk kebersihan dan kesehatan.  



Untuk menambah kelezatan, biasanya mereka menambahkan beberapa jamur dan garam yang dicampurkan ke dalam sup susu jamur, semuanya dimasak sampai mendidih karena dianggap memberi perlindungan apabila terdapat penggunaan jamur yang salah. Yoghurt adalah makanan favorit di kalangan nomaden Tibet dan keluarganya, terutama di musim panas susu diproduksi dalam jumlah yang besar. 



Terlebih dahulu susu dipanaskan atau direbus kemudian dituangkan ke dalam ember dan dibiarkan sampai suhu 50 ° C, sedikit susu asam dicampurkan pada susu tadi sampai suhu turun menjadi 40 ° C. Proses selanjutnya adalah menutupnya dengan membungkus menggunakan wol agar tetap hangat, susu dibiarkan sampai beberapa jam kemudian sampai susu memburuk, jadilah yoghurt yang bisa dinikmati.


Kami juga mengambil dan mengabadikan momentum Namso menggunakan busana dengan ciri khas dan gaya Tibet, kostum tradisional yang sangat berharga terbuat dari sutra dan disulam dengan linen, emas, perak serta dihiasi dengan perhiasan. Aktivitas sosial dan cara hidup mereka merupakan kebiasaan tradisional kaum minoritas di Tibet.


Tashi Delek “Shihdur Chap & Namso...”


Salam Xplorasi...!!!