Tuesday, 26 September 2017

Wisata Keluarga di Pantai Bali Lestari



Menjadi alternatif destinasi wisata yang cukup baik bersama keluarga dengan mengunjungi Pantai Bali Lestari di sepanjang pesisir timur Perbaungan. Pantai sudah berbenah diri demi memajukan wisata bahari di Sumatera Utara ini mengusung konsep seperti kebanyakan pantai di Bali. Dulunya tempat ini bernama Pantai Lestari Indah yang kemudian diganti menjadi Pantai Bali Lestari. Tidak banyak objek foto yang bisa saya ambil di tempat ini, karena membawa keluarga dan anak saya yang sedang lasak-lasaknya serta istri yang lagi hamil pada waktu itu, sehingga focus lebih kepada bermain bersama Aga.



Memiliki pasir yang lumayan bersih dengan warna yang tidak terlalu putih sih, sebuah hal yang menjadi karakteristik kebanyakan pantai di pesisir timur Perbaungan. Di lokasi ini terdapat beberapa ornamen Bali, sekilas kita dapat merasakan suasana Bali.  Payung-payung yang bergelantungan sangat cocok untuk berfoto bersama teman dan keluarga. Memiliki lokasi parkir kendaraan yang sangat luas dan berada di bawah pepohonan yang cukup rindang.


Menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Medan, sebelum sampai Kota Perbaungan pada Restoran Simpang Tiga kita berbelok ke kiri menuju arah pantai cermin. Dari persimpangan tersebut kira-kira 20 menit kita sudah sampai di lokasi. Letak pantai tidak jauh pantai Wong Rame (dulu Pantai Gudang Garam). Untuk lebih jelasnya kita dapat melihat fasilitas Google Maps.


Salam Xplorasi…!!!

Monday, 25 September 2017

Ketika Anugerah Itu Menghampiri Kehidupan Kita



Memiliki perasaan yang sangat luar biasa ketika mengetahui kenyataan bahwa kita sudah menjadi seorang ayah, hal ini terjadi terutama setelah kelahiran anak pertama kita. Rasa bahagia, penuh antusias serta excited melihat si kecil mungil yang saat ini telah hadir ditengah-tengah kehidupan keluarga kecil kita. Serasa ingin selalu berada didekatnya, melindunginya, menjaganya, menyayanginya, memandang wajahnya yang lugu. Seseorang yang terlahir dari buah cinta dan merupakan anugerah terindah yang titipkan Tuhan kepada kita.



Ini merupakan pengalaman pribadi saya, pada saat memiliki anak pertama dulu. Pada siang hari kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus tiga tahun yang lalu ditengah kehamilan yang umurnya sudah tua istri saya, kami membahas sebuah nama untuk calon bayi laki-laki kami (menurut USG pemeriksaan dokter obgyn, jenis kelamin bayi kami adalah laki-laki). Setelah bersama-sama mencari berbagai alternatif nama anak laki-laki, akhirnya kami menemukan sebuah nama.




“Dighatama Al Defado”
Nama yang cukup unik menurut saya dan istri. Tapi itu tidak didapatkan dengan mudah, dan nama tersebut memiliki arti tersendiri bagi kami. Karena merupakan bulan kemerdekaan Republik Indonesia, maka kami memilih “Digha” yang berasal dari kata Dirgahayu, kemudian “tama” adalah putra pertama, “Al” merupakan anak laki-laki, dan “Defado” adalah singkatan nama saya dan istri. Setelah mendapatkan rangkaian nama yang sudah disepakati, terjadi gejolak yang tak biasa pada perut istri saya. Ternyata proses kelahiran sedang berlangsung, dan akhirnya 17 Agustus malam itu lahirnya ke dunia seorang anak laki-laki dengan berat 2,45 kg dan panjang 47 cm.



Berbagai momen tumbuh kembang nya ketika masih bayi yang tak ingin saya lewatkan, sehingga saya mengambil cuti selama sebulan, tepatnya 27 hari kalender dari kantor saya yang Alhamdulillah di Approve. Semua waktu yang ada sepenuhnya saya curahkan buat Aga (panggilan untuk Dighatama Al Defado). Mendokumentasikan dan merekam segala aktivitasnya sehari-hari menjadi salah satu hal yang paling berharga dalam eksplorasi kehidupan saya.


Salam Xplorasi…!!!




Friday, 15 September 2017

Bersepeda Sambil Menikmati Suasana Sunrise


Pengalaman bertugas selama satu tahun di Kota Tebing Tinggi yang jarak tempuhnya hanya sekitar 2 jam dari Kota Medan, relatif tidak terlalu jauh sebenarnya tapi tetap saja saya harus meninggalkan anak dan istri. Di kota kecil yang mungkin lebih banyak sebagai perlintasan untuk menuju ke Kota yang lebih jauh lagi dari Kota Medan ini saya mencari beberapa kegiatan yang bisa mengisi waktu luang. Salah satunya adalah dengan bersepeda setiap pagi sebelum masuk kantor. Selain kegiatan ini bisa menyehatkan badan, bisa juga untuk refreshing.



Rute favorit saya adalah menuju pinggiran Kota Tebing arah ke Dolok Masihul, untuk bisa mendapatkan suasana hijau perkebunan dengan udara yang masih segar, hitung-hitung bisa “back to nature”. Beberapa kali menjalani rute ini saya melihat adanya keindahan pada pagi hari saat matahari terbit (sunrise), sehingga saya berpikir untuk bersepeda berikutnya untuk membawa peralatan kamera dan mengabadikan keindahan pagi di tengah lahan perkebunan yang sedang replanting.



Sehabis subuh, saya bersiap untuk pergi ke lokasi di sekitar daerah Berohol yang merupakan pinggiran kota Tebing. Mengayuh dengan kecepatan rata-rata 30-40 km/jam menggunakan Seli (sepeda lipat) berwarna oranye dengan tentengan di tas saya berupa kamera dan tidak lupa pula saya membawa tripod. Sekitar 15 menit saya sampai di lokasi tersebut dan memang sangat beruntung karena saya mendapatkan momen Matahari terbit di balik pepohonan dengan warna kuning keemasan, sungguh indah dan sangat menarik membuat saya betah berada di tempat ini.


Salam Xplorasi…!!!

Monday, 11 September 2017

Perjalanan Pertama Aga Menuju Siantar


Medan ke Siantar yang menempuh waktu sekitar 3 jam mungkin sudah dianggap biasa untuk sebagian orang, untuk urusan pekerjaan, bisnis, hanya sekedar jalan-jalan, atau mungkin seperti yang saya lakukan ke Siantar untuk pulang kampung ke rumah orang tua saya. Namun bagi anak pertama saya Aga diusianya berkisar 8 bulan, ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke luar kota. Yah, saya dan istri sudah membulatkan tekad untuk membawanya ke rumah si Atok Nenek di Siantar.




Persiapan yang begitu agak ribet sih yah, maklum anak pertama dan pengalaman pertama, ada sedikit rasa ketakutan itu pasti lah apalagi menempuh perjalanan yang cukup jauh bagi seorang anak balita. Bukan apa-apa sih, takutnya rewel di perjalanan aja mungkin. Sekalian pengen dapatin beberapa momen yang ada diperjalanan, kami memutuskan untuk berangkat dipagi hari, tepatnya setelah subuh. So,,, sekitar jam 4 udah pada bangun untuk persiapan sarapan dijalan nanti.





Kenapa harus subuh, yah mungkin karena parno aja sih, takutnya kena macet dijalan dan si abang Aga rewel dan semacamnya. Memang bener sih perjalanan pagi itu bisa nyantai banget dijalannya, dan kebetulan di sekitaran daerah Pasar Bengkel, tp dari jalan belakangnya sih kebetulan saat itu lahan sawitnya lagi direplanting. Sehingga nampaklah tuh langit berwarna kuning keemasan efek dari Matahari terbit.




Eh, kebetulan Aga terbangun pada waktu itu… jadinya yah photo session di lokasi ini berlangsung cukup lama, bahkan sampai Aga sarapan. Selain menikmati Sunset, rumput-rumput liar dengan latar belakang langit yang berwarna kuning keemasan, hamparan lahan yang masih tertutup oleh kabut pagi, menjadi pemandangan yang sangat menyejukkan mata. Melanjutkan perjalanan semakin mendekat ke Kota Siantar kami menyempatkan untuk berfoto di kebun karet, yah hasilnya lumayan juga tidak mengecewakan sama sekali.




Salam Xplorasi…!!!

Video Perjalanan Bersama Keluarga ke Kota Siantar


Merupakan perjalanan seorang Digahatama putra pertama saya yang saat itu masih berusia 8 bulan. Memang sih perjalanan ini tidaklah terlalu jauh, hanya menempuh waktu 3 jam dari Medan ke Siantar, namun bagi seorang anak berusia 8 bulan tentu menjadi hal yang beda. Sungguh ini adalah suatu pengalaman yang baru baginya mengunjungi rumah Atok/Nenek di Kota Siantar.

Postingan terkait : Perjalanan Pertama Aga Menuju Siantar

Salam Xplorasi..!!!