Tuesday, 17 October 2017

Keindahan Kota Bukit Tinggi yang Memiliki Sejarah Sebagai Kota Perjuangan


Kota yang merupakan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat yang pernah menjadi ibukota Provinsi Sumatera pada masa kolonial Belanda yaitu Kota Bukit Tinggi. Mendapat julukan Parijs Van Sumatera, kota ini dikenal dengan sebagai kota perjuangan bangsa yang juga tempat kelahiran salah satu proklamator Indonesia Mohammad Hatta. Selain itu, kota ini memiliki daya tarik kepada wisatawan karena cukup banyaknya destinasi wisata yang dapat dikunjungi.



Kota Bukit Tinggi terletak pada rangkaian Pegunungan Bukit Barisan ini yang Dikelilingi oleh dua gunung yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi serta berada di tepi Ngarai Sianok yang memiliki panorama yang luar biasa keindahnnya, dengan berada diketinggian 900-an meter diatas pemukaan laut sehingga menjadikan kota ini bernuansa sejuk. Udara yang cukup dingin terutama pada malam hari tentunya dapat memanjakan setiap pengunjung untuk berada di kota ini.  




Destinasi tujuan wisata favorit di Sumatera Barat ini memiliki banyak tempat yang wajib dikunjungi seperti Jam Gadang yang berdiri di atas kawasan Taman Sabai Nan Aluih, tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Ngarai Sianok yang membentang lebih dari 15 km dengan kedalaman lembah mencapai 100 meter, sebuah wujud visul yang paling jelas dari aktivitas pergerakan lempeng bumi di Pulau Sumatera. Di dekat kawasan melihat panorama Ngarai Sianok kita dapat juga memasuki Lobang Jepang yang merupakan bunker peninggalan zaman Jepang.



Masih banyak lagi destinasi wisata di kota ini seperti Benteng Fort de Kock merupakan peninggalan bangsa Belanda, Janjang Ampek Puluah yaitu menaiki tangga sebanyak 40 anak tangga, Janjang Saribu tempat merasakan sensasi seperti Tembok Besar Cina, Museum dan Istana Bung Hatta, dan ada beberapa lagi. Namun perjalanan BSPC ke ranah minang yang cukup singkat sehingga tidak dapat seluruhnya untuk kami kunjungi, hanya beberapa dari destinasi wajib tersebut ditambah merasakan nasi kapau khas minang yang rasanya endess men...


Salam Xplorasi…!!!

Sunday, 15 October 2017

Kelok Sembilan, Jembatan yang Menjadi Ikon Provinsi Sumatera Barat


Ini adalah sebuah arsitektur bagunan berupa jembatan layang yang merupakan hasil karya anak bangsa, pemandangan dan kemegahan yang dimilikinya siapa sangka ternyata buah karya dari anak bangsa, dengan mengusung konsep green construction dan yang lebih membanggakan lagi buat kita adalah bangunan jembatan ini menggunakan produk dalam negeri. Kelok Sembilan adalah ruas jalan berkelok yang menghubungkan Provinsi Sumatera Barat dengan Riau, terletak sekitar 30 km dari Kota Payakumbuh. Jalan ini dulunya dikenal sebagai salah satu jalan yang cukup menyeramkan karena bentuk jalan yang curam dan berbatasan langsung dengan jurang.

Namun sekarang, orang-orang akan memilih melewati Kelok Sembilan karena saat ini sudah berdiri bangunan jembatan layang megah sepanjang 2,5 km dengan tinggi tiang-tiang beton bervariasi mencapai 50 meter. Jembatan ini terbentang menyusuri dua dinding bukit terjal dengan jalan yang meliuk-liuk dan apabila malam tiba, lampu-lampu jalan akan menghiasi kemegahan jembatan ini. Kedatangan BSPC kesana pada saat hari sudah gelap selepas makan malam, sebenarnya bukan waktu yang tepat karena kami tidak bisa melihat secara detail akan kemegahan arsitektur ini.


Selain sebagai jalur penghubung antar provinsi, tempat ini dijadikan juga sebagai salah satu tempat wisata, keindahan panorama yang ditawarkan pastinya mengundang ketertarikan kepada siapa saja yang datang berkunjung ke tempat ini. Bagi anda yang datang ke Sumatera Barat tempat ini direkomendasikan menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Jalan ini dibuka pada masa Kolonial Belanda dan terus dilakukan pemugaran pada akhirnya dibangun ulang untuk semakin memperkokoh keberadaannya.

Dengan memiliki konstruksi yang sangat unik pengendara yang melewati Kelok 9 tidak akan pernah merasa bosan, dan tidak lagi menyeramkan karena ditopang dengan pilar-pilar yang kokoh dan menampung ribuan kendaraan, jalan yang meliuk-liuk menjadinya sebagai ciri khas tersendiri. Jika di Jawa Timur ada Jembatan Suramadu, Sumatera Selatan ada Jembatan Ampera, maka di Sumatera Barat ada Kelok Sembilan yang menjadi landmark dan ikon yang membanggakan di provinsi ini.


Salam Xplorasi..!!!

Tuesday, 10 October 2017

Atraksi Permainan Tradisional "Pacu Jawi" dari Ranah Minang


Keikutsertaan saya ke Sumatera Barat menyiratkan perasaan yang sangat excited, terlebih lagi dengan tujuan utamanya untuk memoto kegiatan Pacu Jawi di Tanah Datar, merupakan suatu keinginan yang terpendam lama untuk direalisasikan, mungkin bukan hanya saya tapi setiap fotografer lain juga pasti sangat menginginkan untuk mendapatkan foto terbaiknya disini. Rasa penasaran sudah menghinggapi dalam benak saya, karena foto-foto di Pacu jawi ini sering mendapatkan Juara diberbagai perlombaan foto. Atraksi Pacu Jawi yang ada di Sumbar ini mirip dengan Karapan Sapi yang ada di Madura, mungkin tata caranya saja yang berbeda...

Saturday, 7 October 2017

Mengintip Keindahan Alam Sebelum Mendarat di Bandara Minangkabau



Dalam rangkaian “BSPC goes to Sumbar” seluruh anggota berangkat dari Medan sekitar pukul 06.30 wib, waktu yang akan ditempuh untuk sampai ke Bandara Internasional Minangkabau adalah selama kurang lebih satu jam. Kebetulan sekali penumpang pada pesawat di pagi itu tidak full, sehingga saya bisa berpindah dari tempat saya di tengah ke dekat jendela sisi kiri yang berada di bangku belakang. Pada awalnya saya melihat situasi diluar jendela karena memang masih berada di ketinggian sehingga hanya melihat langit yang dipenuhi dengan awan.




Namun semakin mendekat ke wilayah Sumatra Barat dan pesawat pun mulai menurun sedikit demi sedikit menuju pendaratan, saya tersentak melihat keindahan alam yang sangat luar biasa dari atas (pesawat). Seketika itu juga saya mengambil kamera yang berada di Kabin atas pesawat. Sesuatu pemandangan yang sungguh menakjubkan ini sayang sekali kalau tidak dapat di dokumentasikan. Seperti melihat mahakarya seni yang berupa sebuah lukisan alam terpampang di depan mata dan semua itu adalah ciptaan Tuhan.



Gugusan gunung-gunung yang tergradasi, dengan sinar matahari berwarna kuning keemasan yang seolah-olah menembus batas gunung tersebut sehingga memanjakan mata siapa saja yang melihatnya, terutama untuk pencinta fotografi. Ray Of Light yang tampak begitu nyata di sela pegunungan semakin menambah keindahan dari pemandangan ini. Semakin menurun dan mendekat untuk pendaratan, kita disuguhi oleh laut yang berwarna biru, pulau-pulau kecil dan beberapa kapal yang sudah memulai aktivitasnya.


Salam Xplorasi…!!!

Tuesday, 3 October 2017

BSPC goes to Sumbar (Sumatera Barat)


Setelah vakum dalam kurun waktu beberapa lama tanpa adanya kegiatan rutin di Bank Sumut Photography Community (BSPC), kegiatan hunting terakhir yang dilaksanakan adalah ke BSPC goes to Melaka. Kali ini dengan adanya kepengurusan baru dan semangat baru, BSPC memutuskan untuk mengeksplorasi Sumatera Barat (Sumbar), dengan tema BSPC goes to Sumbar. Kegiatan hunting dan gathering yang diikuti sekitar 30 orang anggota ini memiliki tujuan utama memoto kegiatan Pacu Jawi di Kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat.



Selain Pacu Jawi berbagai destinasi menarik juga menjadi tujuan hunting foto kali ini, seperti Istana Baso atau lebih dikenal dengan nama Isatana Pagaruyung, merupakan objek wisata budaya yang cukup terkenal di Sumatera Barat.  Sebuah ruas jalan berkelok terletak sekitar 30 km dari Payakumbuh yang sangat terkenal dengan Kelok Sembilan. Melihat panorama Ngarai Sianok dan Jam Gadang di Bukit Tinggi pun kami jadikan pilihan untuk destinasi hunting foto.



Perjalanan cukup singkat hanya semalam saja di Sumbar, dan kami menginap di Lembah Echo yang merupakan penginapan terletak di Lembah Harau, salah satu lembah terindah di Indonesia. Penginapan yang cukup unik berupa cottage tentunya sangat sesuai dengan selera para fotografer. Selain itu juga kegiatan lainnya di ranah Minang ini pastinya belanja makanan khas seperti Keripik Sanjay dan lainya. Tidak lupa pula mencoba nasi kapau di sekitar Jam Gadang dan satu lagi yang legenda disini yaitu Sate Mak Syukur. Perjalanan dengan pengalaman yang menyenangkan di ranah minang Sumatera Barat. See you next hunting with BSPC.


Sunday, 1 October 2017

Mengeksplor Pola Asuh Anak Dalam Keluarga


Seperti kata pepatah “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya” seakan sangat familiar di terdengar di telinga kita. Itulah yang sering kita sebut dengan turun temurun, dan itu seakan menjadi momok yang terus menghantui kita dalam kehidupan rumah tangga, dalam mengasuh dan mendidik anak-anak kita. Artinya apa? Mau tidak mau kita harus percaya bahwa “apa yang kita tanam, maka itulah yang kita tuai nantinya”. Bagaimana cara kita mengasuh dan mendidik anak, sebagian besarnya dipengaruhi oleh pengalaman kita sebagai anak yang diasuh orang tua kita.


Sedikit banyaknya akan terbersit dalam benak kita bagaimana orang tua kita dulu memperlakukan kita, begitu juga lah kita memperlakukan anak kita sekarang. Namun apakah yang sudah dilakukan oleh orang tua kita dulu sudah benar dan baik buat kita?? Bagaimana kalau ternyata efeknya buruk, apakah kita harus mengajarkan hal tersebut kepada anak-anak kita kelak? Hal-hal semacam ini mungkin sudah menjadi bahan penelitian atau sudah diamati baik itu kepada orang-orang dekat kita atau terjadi pada teman-teman kita sendiri.


Coba masing-masing kita “flashback” terhadap memori masa kecil, mungkin kita akan menyadari ketika kita “menghukum anak” misalnya, atau “memanjakannya”,  bisa jadi ada suatu kemiripan apa yang pernah kita dapatkan dulu dari orang tua ketika kita kecil. Nah, untuk penilaian bagaimana baik dan buruknya tergantung kebijakan kita sebagai orang tua yang juga dulunya pernah merasakan menjadi seorang anak. (fyi : tulisan ini sebagian besar merupakan pemikiran istri saya).


Yah, kemampuan kita dalam mengubah pola asuh dari orang tua dulu saya rasa dan saya percaya dapat mengalahkan sesuatu yang menjadi “turun temurun” tadi, zaman kan selalu berubah tentunya banyak pola-pola yang sudah “afkir” atau tidak sesuai dengan pola dulu. Sekarang sudah zaman “gadget”, dibanding dulu kita hanya mengenal “gamewatch”. Apa saja bisa di eksplor termasuk dari parenting atau family life sekalipun. Karena itu juga termasuk dalam pengalaman di kehidupan kita, “whatever the background” semoga kita bisa menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kita.


Take the benefit and throw away the badness...


Salam Xplorasi…!!!

Dighatama Al Defado Story Video


Video perjalanan Aga atau " Dighatama Al Defado" yang merupakan anak laki-laki pertama saya mulai dari usia 1 bulan sampai usia 1,5 tahun. Terlahir di hari kemerdakaan Republik Indonesia, tepatnya di tanggal 17 Agustus 2014. Video ini adalah keseharian Aga, dulu dia hanya bisa menangis, minum susu dan tidur. Kemudian bisa tertawa, belajar telungkup sendiri, merangkak, belajar makan, sampai bisa jalan dan berbicara. Proses perkembangan dari sang buah hati yang sayang untuk terlewatkan sedikitpun dalam kehidupan kita sebagai orang tua. 

Salam Xplorasi..!!!
COPYRIGHT © 2015-2019 | XPLORASI